Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Hantu | Sesosok Gadis dan Pohon Tua

 

 

Saat ini keluargaku membawaku dan kedua adikku pergi menuju rumah baru kami.

Letaknya lumayan jauh dari rumah kami yang dulu. Sebenarnya aku setengah hati untuk berpindah rumah.

Tapi apa daya, ini adalah tuntutan kerja ayahku. Akhirnya kami semua tidak bisa menolaknya.

cerpen hantu

 

Dari kejauhan ayah menunjuk rumah mewah berlantai tiga di tengah-tengah hutan.

Pohon-pohon yang menjulang tinggi menutupi sebagian rumah itu. Aku terus menatap rumah itu dalam-dalam. Rumah itu seperti rumah tua!

 

Tapi apa benar itu rumah tua? Pikirku. Ah sudahlah kita lihat saja nanti setelah kita sampai di sana.

Mobil terus berjalan mendekat hingga sampailah kami pada sebuah gerbang yang menjulang tinggi menghubungkan rumah dan hutan ini.

 

Setelah kami semua turun dan keluar dari dalam mobil, aku terus memandangi sekeliling rumah ini.

Ayah, ibu, dan adik-adikku berjalan menuju pintu utama. Namun tidak denganku, aku terus menatap setiap sudut rumah ini.

Dan aku melihat ke sudut sebelah kiri rumah ini. Di sana terdapat sebuah pohon tua yang letaknya berjauhan dengan pohon-pohon lainnya.

 

Aku berjalan mendekati pohon itu. Setelah sampai aku mengelilingi pohon itu, mengamati sekelilingnya, sampailah aku pada sebelah kanan pohon ini.

Kulihat ada sebuah nama yang terukir di pohon tua itu.

 

“Audry!” Nama yang terukir di batang pohon tua itu. Aku mengatakannya pelan sembari mengusap-usap pohon itu.

Seseorang menghampiriku, “Kak Andre ayo kita masuk!” Ia berhasil mengejutkanku yang tengah bengong menatap pohon tua itu.

 

Setelah aku menolehkan kepala ternyata itu adalah adik kecilku Vanie.

Aku tersenyum padanya. “Ya baiklah!” Sahutku lirih.

 

Hingga malam tiba, aku masih penasaran akan nama Audry. Aku terus memikirkannya.

Apa dia adalah penghuni rumah ini sebelum kami. Atau…? Ah sudahlah aku jangan berpikiran negatif.

 

Saat ini jam menunjukkan pukul 03.30 malam. Aku melangkah ke bawah lantai satu menuju kamar kecil.

Di suatu tangga, aku tidak sengaja melihat jam yang terpampang di tembok sebelah kiri.

 

Aku mengernyitkan kening.

Perasaan tadi siang jam ini baik-baik saja. Kenapa saat ini jam berhenti berputar? Aku mengulurkan tangan mengambil jam untuk memastikannya. Apa ini sudah mati.

 

Tiupan angin berhasil mendirikan bulu kudukku. Aku masih berdiri di tangga tersebut.

Dari sudut mataku, aku merasakan ada seorang wanita berjalan mendahuluiku.

 

Berjalan tertunduk dari atas ke bawah. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah polos. Rambutnya menutupi wajah wanita itu.

Sekilas aku langsung meliriknya. Namun mata ini tidak melihat siapa-siapa.

 

Detik itu juga jantungku berdegup kencang. Hingga jeritan dari salah satu kamar membuatku membelalakkan mata.

Dan tanpa berpikir lagi aku langsung berlari kencang menghampiri kamar tersebut.

 

“Brekk…!!!” Aku membuka kamar kedua adikku kencang.

Kemudian menghampiri Vina yang tegap berdiri sembari menuduh ke sudut kamar. “Aaaaaaa…!!!” Dia terus berteriak.

 

Sementara adik besarku Loli dia berdiri dengan menutupi telinganya. Aku memeluk Vina.

Dan Vina pun akhirnya sadar. Setelah Vina sadar, ayah dan ibu menghampiri kami.

 

“Apa yang terjadi dengan Vina?” Tanya ibu memeluk Vina.

 

Vina yang ada di pelukan ibu tidak merespon pelukan ibu. Dia terus memeluk boneka yang dia pegang.

Dan terus memasang mata yang kosong. “Ada apa Vina? Ada apa dengan mu?” Tanyaku dengan menggoyang-goyangkan tubuh Vina.

 

Namun Vina terus terdiam tanpa mengatakan apa-apa.

“Sekarang kau dan Vina tidur di kamar Ibu saja!” Loli mengikuti ibu dari belakang.

Sementara Vina, ayah menggendongnya. Aku berjalan menuju kamarku.

 

Apa mungkin Audry adalah penunggu rumah ini. Maksudku apa dia bukan manusia? Hantu, misal. Manusia yang meninggal di rumah ini.

Apa ada hubungannya dengan pohon tua itu yang berada di depan rumah ini?

Ah, sudahlah aku jangan terlalu berpikir seperti ini. Mana tau itu adalah halusinasi Vina saja.

 

Dari kejadian itu, kami bertiga mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di rumah ini.

Hingga kami menemui orang yang tahu sejarah rumah ini. Dia sudah tua sekali.

 

Dia bercerita bahwa rumah itu dulu dihuni sepasang pengantin baru.

Seminggu setelah mereka mendirikan rumah ini, suaminya membunuh wanita itu dengan sadis tepat di bawah pohon tua itu.

 

Siapa pun yang menghuni rumah itu setelah mereka, maka gadis ini selalu ingin puas dan membunuh satu per satu penghuni barunya.

Menurut si kakek tua, cara mengusir gadis itu yaitu dengan menebang pohon tua itu dan membuang jauh ke sungai.

 

Setelah mendengar cerita dan saran kakek tua itu. Aku langsung membulatkan tekat untuk menebang pohon itu.

Siang ini angin berhembus kencang. Awan terlihat mendung. Tirai melambai-lambai ke dalam rumah.

 

Saat ini aku berdiri di depan pohon besar itu membawa golok untuk menebangnya. Ya mengapa aku berani untuk menebangnya?

Karena ini demi kebaikan keluargaku. Supaya hantu itu tidak mengganggu kami.

 

“Brekk…!!!” Satu kali golok aku ayunkan dan mengenai pohon itu. Sebuah jeritan melengking memekakkan telinga.

Aku melihat ke atas pohon itu. Setelah itu aku terkejut ketika aku melihat kembali pohon itu.

Ternyata golokku  tidak mengenai pohon itu melainkan mengenai leher seorang wanita.

 

Tanpa basa-basi aku meneruskan menebang pohon itu.

 

Setelah selesai, aku dan ayah membuangnya ke sungai yang mengalir deras.

Tangisan terakhir gadis itu membuatku merinding dan ingin cepat kembali ke rumah.

 

Setelah pohon itu tak ada, kehidupan baruku dan keluargaku menjadi tenang.

 

Fitri Yani

 

Selanjutnya, cerpen singkat persahabatan yang akan menginspirasi kamu, Kurelakan Dia

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan