Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Lucu | Da Aku Mah Apa Atuh?

 

 

Tak pernah menginjakkan kakinya di depan kelas. Jarinya tak pernah diacungkan dalam ruangan. Suaranya amat jarang terdengar.

Duduknya pun selalu sendiri tanpa pernah punya pasangan.

 

Bukunya, mungkin penuh dengan catatan. Tapi isinya, hanya dia, malaikat, dan Allah swt. yang tahu.

Dia pintar, tapi tak ada satu pun yang mau menjadi temannya. Selalu dingin, menjauh, dan merendah.

Dalam hati ia selalu berkata, “Da aku mah apa atuh”. Kalimat alay ini semakin mencuci otaknya setelah kalimat ini menjadi top rating dalam candaan sehari-hari.

 

Rasyid sebenarnya memang pintar, tapi kerendahan dirinya, membuat ia tidak terlihat pintar sama sekali.

Kepribadiannya semakin pendiam dan semakin pelit berkata-kata.

Setiap ingin melakukan sesuatu, selalu saja terhenti, karena kalimat, “Da aku mah apa atuh”. Ia sangat menganggap remeh dirinya sendiri.

 

Suatu hari seorang murid bernama Huda duduk di sebelahnya. Huda adalah cowok idaman seluruh wanita.

Pintar, tinggi, tampan, kaya dan akhlaknya super baik, Membuat Rasyid semakin teriak dalam hati, “Da aku mah apa atuh !!”

 

Saat itu pelajaran fisika. Sang guru memberikan soal kepada siswa untuk dijawab dengan sistem balapan dan sesegera mungkin menuliskannya di papan tulis.

Tujuannya, untuk menambah nilai.

“Kamu udah Syid?” tanya Huda sambil menoleh ke arah Rasyid yang ada di sebelah kirinya. Apakah jawaban Rasyid? Ya, tentu saja ia tidak menjawab sama sekali bahkan menoleh saja tidak dilakukannya.

Kepalanya malah makin menunduk saja. Tangan dan sikutnya membentuk sudut yang menutupi buku tulisnya. Sekali lagi, agar hanya dia, malaikat, dan Allah swt. yang tahu.

 

“Ehhhh, Syid, udah belum? Soalnya lumayan susah loh.

Ngangguk kalo udah, geleng kalo belum, kalo baru setengahnya, ngangguk sekali terus geleng sambil bilang ‘lagi’. Hehe….” Huda bercanda.

 

Tak disangka, ternyata Rasyid mengangguk, tanpa menggelengkan kepalanya. Artinya, ia sudah selesai mengerjakan soal.

“Waahhh…. Kerenn! Kamu yang tulis di papan tulis yah,” Huda memuji Rasyid sambil tersenyum.

 

Kemudian Huda mengacungkan tangannya dan berkata, “Bu, Rasyid sudah. Dia mau coba kerjain di depan Bu!”

Sontak Rasyid melotot terpelongo, kaget sejadi-jadinya. Dalam hati ia teriak, ‘Naon Ieu tehhh….? Ini orang sotoy pake banget. Mau kerjain, ya kerjain aja sendiri. Malah nyuruh-nyuruh.

Tapi, da aku mah apah atuh?’ tanyanya lagi dalam hati. Ia tak berkata apa pun. Hanya diam.

 

Dengan terpaksa, wajah pucat, keringat dingin, dan kaki gemetar, akhirnya  ia mengukir sejarah baru dengan tampil di depan kelas dan mengerjakan soal.

Ternyata hasilnya sempurna. Tulisannya cukup bagus  hingga mendapat tepukan meriah dari siswa lain.

Inilah pertama kalinya ia merasa senang, bangga, dan puas atas hasil jerih payahnya karena semua temannya tahu bahwa ia juga bisa.

 

Kejadian itu cukup membuat Rasyid agak lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ia mau bercakap-cakap dalam beberapa kata meskipun hanya kepada Huda.

Tiba pada suatu hari, di sekolahnya ada seleksi olimpiade matematika dan biologi.

Dengan memaksa, akhirnya Huda mendaftarkan diri dalam olimpiade biologi dan memaksa Rasyid ikut olimpiade matematika. Tak disangka, keduanya terpilih sebagai juara pertama dan mewakili sekolahnya.

 

Mereka pun dipanggil bagian kesiswaan, namun Rasyid tak nampak-nampak juga batang hidungnya.

Huda pun mencarinya ke seluruh penjuru sekolah hingga ia menemukan Rasyid di belakang sekolah.

 

“Syid, ngapain di sini? Kita dipanggil kesiswaan!” kata Huda sambil mendekati Rasyid. Rasyid? Tentu hanya diam. “Heh! ieuh, kita disuruh menghadap ke kesiswaan!” ajak Huda.

 

“Cukup Da! Maksudnya apa? Ga usah urusin kerjaan orang lain!” bentak Rasyid yang pertama kalinya pada  Huda.

“Aku gak mau malu-maluin sekolah! Aku gak mau sekolah ini dibilang jelek gara-gara aku kalah! Da aku mah….. aku mah….. aku mah apa atuh?

Bukan kamu yang serba bisa! Aku gak pinter. Ga bisa apa-apa!” Rasyid marah sambil menatap tajam ke arah Huda.

 

“Jadi selama ini itu masalahnya? Cuma karena rendah diri? Cuma karena takut? Kapan kamu mau bangkit Syid? Kapan mau bisa? Kapan bisa banggain sekolah?

Kamu udah kepilih jadi juara pertama di sekolah ini!! Mau nyerah gitu aja? Sadar, kamu bisa,  semua orang sekarang tahu itu!” Huda menyadarkan.

 

Rasyid hanya terdiam tak bisa apa-apa. “Aku yakin kamu orang yang pinter. Kamu bisa. Tapi gak pernah ada orang yang tau selain kamu!

Coba  atau kamu ga akan pernah bisa maju dan bangkit lagi!” Huda pun mengajak Rasyid menemui kesiswaan. Mereka berdua bersiap menghadapi lomba. Berbagai latihan mereka tempuh.

 

Berbagai proses telah dilewati. Hari demi hari dilewati dengan usaha dan kerja keras. Ternyata angan mereka terlaksana.

Bukan hanya di tingkat kabupaten, tapi juga provinsi dan nasional. Kini Rasyid bisa bangga atas dirinya dan semakin giat belajar terutama belajar bersosialisasi dan public speaking.

 

Rendah diri telah hilang dari sifatnya. Bukan hanya malaikat dan Allah swt. yang tahu kepintarannya. Kini seluruh insan mengetahui kecerdasan dan torehan prestasinya.

Sekarang, tak ada lagi kalimat “Da aku mah apa atuh?” dalam pikiran Rasyid sehingga dia lebih maju, lebih belajar, dan lebih berani bersaing untuk mencapai cita-citanya.

 

Monna Ismaila S

 

Yuk lanjutkan membaca cerpen singkat Sang Superstar!

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan