Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Sekolah | Terbilang Sebuah Kesan

 

 

Rasa keraguan tercampur dalam sebuah kisah yang terbagi atas kekhawatiran berat.

Fajar di ufuk timur mulai menyapa, tibalah seorang siswi bernama Evita menjajaki sebuah jalan yang ditempuh menuju SMA 1 Master.

Sebuah tempat di mana ia menimba ilmu setingkat SLTA.

 

Tepat jam pelajaran pertama dimulai.

Evita bersama kawan dengan riang gembira mengikuti mata pelajaran pertama, yakni Kimia dengan panduan seorang guru berbadan tinggi mempunyai lesung pipit di kanan wajahnya.

cerpen singkat lucu

 

Pembelajaran dengan memadukan antara belajar dan games yang membuat para siswa-siswa dengan senangnya menjalani mata pelajaran Kimia.

Tak terasa tibalah di akhir penghujung di jam pelajaran pertama,”anak-anak bapak sudahi dulu yaa..untuk pertemuan kali ini”ujar pak Saman selaku guru kimia diruangan kelas Evita.

 

Bel jam pelajaran kedua, berbunyi dengan keras yang seharusnya mendamaikan. Namun, disaat kondisi ini siswa-siswi keheranan yang sangat kuat melanda kelas Evita.

 

Mereka khawatir akan sikap guru yang satu ini guru dengan sebutan terkiller di jagat SMA 1 Master.

Dispensasi, izin untuk acara pada saat sekolah pun tak dapat izin, bahkan untuk izin ke toilet pun tak diizinkan.

Tampak sangat menegangkan untuk penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sebelum datang pengajar, ketua kelas amat sangat kebingunggan entah apa yang harus dikerahkan lagi dengan menghubungi orangtua Evita.

Telepon rumah Evita bahkan  tak kunjung berbalas & tak kunjung keberadaan Evita.

Sampai-sampai seluruh anggota kelas pun dikerahkan untuk mencari ke berbagai penjuru bangunan sekolah dengan waktu yang sangat irit terbilang pendek.

 

Lima menit kemudian. Audio kelas yang berada tepat di atas papan tulis kelas Evita berbunyi.

“Anak-anak, siapkan untuk agenda pembelajaran hari ini adalah pengumpulan tugas. Ibu akan masuk dalam waktu 3 menit lagi..” ujar ibu guru dengan predikat Ter-Killer dijagat SMA 1 Master.

 

Sontak semua ekspresi  dari seluruh siswa-siswi kelas Evita berubah menjadi mencekam.

 

Helaan nafas terasa begitu memuncak dengan pemberitahuan yang telah disampaikan tadi.

Cucuran air mata pria tampan berkaca mata kotak tak lain sang ketua kelas yang nampak menghawatirkan keberadaan kawannya dengan rasa khawatir akibat kasus hilangnya Evita.

Tanpa kabar seakan dimakan perut bumi.

 

Dion, sang pemuda berbadan tinggi memiliki kulit terbilang putih bule ia tak ada di dalam kelas.

Namun, ia kesana kemari dengan menghampiri sudut-sudut bangunan sekolah untuk menemukan Evita.

Tiba di gubuk gudang sekolah, “vita..kembali vita kami mencari mu..kami khawatir vita..” ucap Dion dengan gelisah yang berlebih.

 

Tiba-tiba derapan langkah kaki menghampiri Dion, “puk…”tepat punggung Dion ditepuk seorang berbadan tinggi dari Dion.

“Nak,kenapa kamu di sini ?, sana masuk kelas” ujar pak Saman yang menggagetkan Dion.”ehh..bapak. Ehmm…anu pak, saya lagi cari Evita.

Evita menghilang dari kelas pak. Semua alat komunikasi sudah di kerahkan dan saya sudah cari dia ke berbagai sudut bangunan sekolah.

Tapi, tak tampak juga…”ucap Dion pada pak Saman.

 

“Nak, sudah sekarang ke kelasmu” pak Saman menenangkan Dion.

Dengan ucapan pak Saman yang berikan pada Dion, akhirnya Dion pun bergegas kembali menuju kelas.

 

“Taraaaaa…”para Sahabat Dion mengejutkan ia di balik pintu yang ketua kelas sekaligus teman sebangku Dion membukanya dengan kebahagiaan.

Dion keheranan akan semua yang terjadi. Dion melihat Evita yang tampak duduk dengan wajah manisnya dengan lesung pipit di wajahnya, seakan tak terjadi apa-apa.

 

“Akhirnya, ibu bisa melihat kerja sama yang kuat diantara kalian..”ujar guru killer tersebut dengan wajah yang berseri-seri.

“Kerja sama apa bu,…?” ujar siswa-siswi dengan keheranan akan ucapan yang dilontarkan oleh ibu killer tersebut.

 

“Nah, ibu mencoba akan kerja sama kalian yang mana Evita, ibu suruh ia untuk beli bakso di luar sekolah atau di sebrang gerbang belakang sekolah tanpa ada yang mengetahuinya.

Ibu amanatkan pada Evita untuk mencoba tidak mengaktifkan alat komunikasi tanpa memberi tahu siapapun dan ibu pun bekerjasama dengan Orang tua Evita serta pak Saman”.

 

Dan pada akhirnya di balik semua ini adalah rencana Ibu Rima, sang guru berpredikat Ter-Killer di SMA 1 Master.

Guna menguji kepekaan & kerjasama antar kawan kelas.

Yang mana Evita sebagai bagian utama di kelasnya dan SMA 1 Master merupakan sekolah bertaraf atitude predikat Amat Baik dengan pengujian baik di mata pemerintah.

 

Deris Mulk

 

Kisah Sakti dan Rini menjadi cerpen singkat tentang cinta, pada kumpulan cerpen singkat ini.

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan