Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Cinta Segitiga | Mawar Merah

 

 

Di jalan menuju ke sekolah, aku dan sahabatku berbincang-bincang tentang ulangan bahasa Indonesia.

“Hari ini ulangan bahasa Indonesia,apakah kamu sudah menghafalnya Nadia? ”tanyaku kepadanya.

“Tentu saja sudah dong, aku gitu lho…!” jawab Nadia, terlihat sumringah.

 

Diperjalanan,  kami terus saja berbicara tentang inilah, itulah, dan akhirnya kami sampai di sekolah.

Kami menyapa teman-teman dan guru-guru. Lalu aku dan Nadia masuk ke kelas dan memulai ulangan bahasa Indonesia karena itu pelajaran yang pertama.

 

“Bismillaaahirrahmaaanirahiiim, ”aku membaca basmalah dalam hati dengan penuh  percaya diri bahwa aku pasti bisa mengerjakan soal ulangannya.

 

“Ting-ting-ting…..!!!” Suara bel istirahat berbunyi. Teman-teman sekelasku bersorak-soraibergembira, mungkin mereka sudah lapar dan ingin buru-buru pergi ke kantin.

Sama seperti kami juga. Kami pun bergegas pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa stres akibat ulangan tadi.

 

“Duh !! Put,  ulangantadi menurutmu susah tidak? Kalau bagiku sih, susah-susah gampang..!” tanya Nadia.

“Kalau bagiku sihh… ahhh tidak terlalu susah karena aku kan sudah menghafalnya,” jawabku.

 

“Aku juga sudah menghafal, tapi kenapa yah kok susah mengisinya, malah lupa lagi, ”keluh Nadia.

“Mungkin materi itu kamu hanya menghafalkannya,  saja tapi tidak sambil memahami maknanya, makanya kamu bisa lupa lagi materinya.”

”Mungkin saja begitu,” ucap Nadia seraya merenung, seakan  memikirkan nilai yang bakal ia terima dari pelajaran tersebut.

 

Selama perjalanan ke kantin, aku dan Nadia terus saja berbincang sampai tidak memperhatikan jalan.

Pada akhirnya aku terpeleset karena ternyata lantai menuju kantin sedang dipel, padahal di depanku sudah ada peringatan: “Hati-hati lantai basah..! “

 

“Aaww !!!,  Iiih, jatuh lagi. Ini gara-gara kamu ngajak bicara melulu, jadi aku kepeleset deh, ”umpatku dengan suara kesal.

Saat aku terjatuh, Nadia malah jalan terus dan tidak memperhatikan aku.

 

Akhirnya aku kesal, lalu  aku balik kanan, kembali ke kelas, tak jadi menemani Nadia ke kantin

“Aku balik saja ahh, biarkan dia bicara sendiri dan menyadari bahwa aku tidak ada di sampingnya, nanti juga dia ke kelas kok.”

 

Ketika aku balik kelas, Nadia terus berjalan dan berbicara sendiri bagaikan aku ada di sampingnya.

Karena taka da balasan, Nadia seketika menenggok ke arah kanan, posisi aku tadi sebelum jatuh.

 

Namun alangkah dia terkejutnya ketika aku tidak ada di sampingnya.

“Lho mana Putri ?Tadi  dia ada di sini bersamaku, kenapa kini  tidak ada?“N adia terheran-heran.

 

Karena aku tidak ada, dia pun kembali ke kelas dengan raut muka yang keheranan dan terus memikirkan aku.

Alangkah terkejutnya dia ketika masuk ke kelas dan melihatku ada di sana.

 

“Putri…. !! Kamu ngerjain aku ya?  Katanya kita mau ke kantin, tapi kamu malah ada di sini,” umpat Nadia dengan suara kesal.

“Aku tadi kepeleset tau?  Kamu malah masa bodoh. Kamu terus aja jalan ninggalin aku, ya udah, aku balik ke kelas aja…!”

 

“Emangnya kapan kamu jatuh? Kok aku ngga tahu? Kamu bohong ya? Kalau nggak mau ke kantin, ya udah nggak apa-apa, tapi jangan ninggalin aku gini…! ”

“Aku jatuh tadi, kamu sih ngomong melulu. Kamu nganggap aku kaya semut ya?”

 

“Aahhh maaf deh, aku salah. Sekarang jadi gak ke kantin?”

“Nggak ahh, bentar lagi juga masuk.”

 

Aku dan Nadia tidak jadi pergi ke kantin. Kami memutuskan tinggal di kelas saja, sampai suara bel berbunyi tandanya pelajaran kedua akan segera dimulai.

Aku pun mempersiapkan buku dan menunggu guru mata pelajaran datang ke kelas. Beberapa menit kemudian guru pun datang.

 

“Selamat siang Anak-Anak !”Ibu Guru menyapa kami semua.

“Siang Buuu !!! ” Semua murid membalas salamBu Guru.

 

“Hari ini Ibu akan memperkenalkan seorang murid baru yang akan menjadi teman kalian di kelas ini. Silakan Nak,  perkenalkan namamu!”

 

“Hai teman-teman, perkenalkan namaku Farhan Adittya Gilbert, usiaku 16 tahun, aku berdarah blasteran, ibuku dari Indonesia sedangkan ayahku dari Jerman.

Oleh karena itu aku tinggal di sana dan bersekolah disana” ujar Farhan.

 

“Mungkin kalian ada yang bertanya kenapa pindah bersekolah di Indonesia, kenapa tidak di Jerman? Akan aku ceritakan sedikit.” lanjutnya.

So, karena ayah dan ibuku sudah bercerai akibat perbedaan agama, tetapi aku memilih untuk tinggal bersama ibuku karena aku dan ibuku beragama Islam,” ucap murid baru itu dengan nada sedih.

 

“Ohh sedih sekali, ya sudah kamu boleh duduk,” kata Ibu Guru.

“Terima kasih Buu.”

 

Cowok blasteran itu pun duduk di sebelahku karena kebetulan saja kursi sebelahku kosong.

 

Aku dan dia pun berkenalan, namun sebelum aku selesai memberitahukan namaku, tiba-tiba Nadia menyambarku dan mengulurkan tangannya pada Farhan.

Aku sangat heran dengan tingkah laku Nadia, tetapi bagiku itu hal biasa karena Nadia hatinya sedang berbunga-bunga. Mungkin itu spontanitas.

 

“Ting-ting-ting….!!!.” Bel pun berbunyi menandakan waktu pulang sudah tiba.

Aku bergegas membereskan buku, lalu aku pulang bersama Nadia. Selama di perjalanan, Nadia terus saja berbicara tentang Farhan.

 

Ketika aku dan Nadia sedang asyik berbicara, tiba-tiba Farhan datang menghampiri kami.

Dia mengendarai sepeda motor ninja Kawasakinya, dia ingin mengajakku pulang bersama.

 

Namun aku ragu-ragu karena di satu sisi Nadia adalah sahabatku, masa aku tinggalkan dia pulang sendiri.

Di sisi lain, Farhan teman baruku, masa dicuekin.

 

“Eemm, gimana ya ?Lain waktu deh Far, aku mau pulang bareng Nadia aja, masa Nadia pulang sendiri?”

“Nadia kamu gak kenapa-kenapa kan kalau kamu pulang sendiri?” tanya Farhan.

 

“Eemm. Oh ya nggak kenapa-kenapa. Putri sana, kamu pulang sama Farhan,” suruh Nadia.

“Kamu nggak apa-apa pulang sendiri?”

 

“Iya, nggak apa-apa, kamu jangan khawatirkan aku.”

 

Akhirnya aku pulang bersama Farhan. Dari kejadian itu, persahabatanku dengan Nadia mulai goyah.

Aku dan Nadia sudah tidak pulang bersama lagi, kami saling berjauhan dan tidak pernah berkomunikasi lagi.

 

Aku pernah bertanya kepadanya soal ini, namun Nadia tidak menjawab pertanyaanku.

Hari demi hari aku semakin dekat dengan Farhan, namun aku semakin menjauh dari Nadia.

Ada apa ini?

 

Beberapa hari kemudian, Nadia mengajakku makan malam bersama di suatu restoran dekat taman kota.

Aku berpikir, Nadia akan baikan dan tidak sinis lagi kepadaku.

 

Namun dugaanku salah, ternyata Nadia ingin memutuskan sillaturahmi alias putus persahabatan denganku.

Hatiku hancur berkeping-keping, padahal kami sudah menjalin persahabatan cukup lama.

 

“Apa maksudmu Nadia, kenapa kamu lakukan ini? Apa salahku?” tanyaku tersedu-sedu.

“Kamu tahu, kenapa aku lakukan ini? Aku ingin putuskan jalinan persahabatan denganmu karena aku kesal dan benci kepadamu…”

 

“Emang salah aku apa? ” aku semakin tak mengerti.

 

“Kamu masih menanyakan itu kepadaku, sadar diri dong, semua permasalahan ada pada kamu, tahu…!” kata Nadia sambil marah.

“Gara-gara kamu, Farhan suka jauhin aku, aku itu suka sama Farhan tetapi Farhan malah memilih kamu ngajak pulang bareng, makan bareng dan lainnyalah.” lanjutnya.

 

“Kamu tahu Farhan itu adalah tipe cowo yang aku dambakan, yang aku inginkan, tapi kamu rebut semuanya dariku,” Nadia begitu pedas melontarkan nada tinggi kepadaku.

“Kamu jangan salah paham dulu, aku sama Farhan tidak ada hubungan apa-apa!”

 

Sedikit demi sedikit aku jelaskan semuanya, namun Nadia tidak mau mengerti.

Dia pun mengeluarkan setangkai mawar merah sebagai tanda perpisahan persahabatan kami.

 

Kemudian dia pun pergi, sedangkan aku hanya terdiam tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat menangis dalam keterpurukan.

 

Rivana Rosandi

 

Cerpen singkat tentang kehidupan Terima Kasih Sahabat berikut juga layak untuk direkomendasikan sebagai cerita inspiratif pada kumpulan cerpen singkat Caraindonesia.

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan