Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Cinta dan Persahabatan | Cinta Tak Sempat Memiliki

 

 

Kini sudah berbeda masanya, aku tumbuh menjadi orang yang bisa dibilang mulai dewasa. Pada saat ini pula aku mulai merasakan ”cinta”.

 

cerpen persahabatan

 

Kenalkan Sahabat, namaku Anisa Anadiana, temen-temen biasa memanggil aku Ica atau Ana.

Temen-temen, ya bisa dibilang mereka adalah teman terbaikku.

 

Aku mengenalnya sejak aku masuk di Sekolah Menengah Atas (SMA), sejak saat itu aku baru tahu bahwa dunia luar itu indah.

Oh iya, selain itu aku juga tak lupa dengan sahabat-sahabatku dulu, sahabat masa kecilku.

 

Mungkin kelas X adalah masanya saat kita memulai kehidupan baru di lingkungan baru.

Selain teman-temanku yang selalu bisa membuat aku tersenyum,  aku juga mungkin sedang mengagumi seorang cowok.

Namanya Rio, aku melihatnya saat ia hendak bermain basket, menurutku dia keren, pinter, baik dan entah kenapa, sejak saat itu mungkin ini yang dinamakan suka.

 

Dan yang paling aku suka darinya, dia murah senyum, dia ramah pada semua orang.

Mungkin itu yang membuat perempuan-perempuan yang lain juga menyukainya.

 

Setelah itu, di penghujung tahun tepatnya saat pembagian rapor,  sahabatku bilang aku dan Rio bagaikan sepasang sepatu.

Kami selalu bersama dan kompak dalam hal pelajaran maupun melaksanakan tugas.

 

”Ca, gak terasa ya, sekarang kita udah kelas XI  nih,” kata Rio kepadaku seraya tersenyum.

Dalam hatiku pun menjawab, ”Iya ya,  dan udah setahun ini juga aku menyukaimu  tanpa kau sadari.”

 

Mungkin kelas XI bukanlah masanya aku dengan Rio, Rara dan Putri pun saat itu turut menikmati indahnya persahabatan.

Kami selalu bersama dan kami juga sering berbagi pengalaman dan tentunya solusi-solusi ala kami.

 

Putri adalah seorang sahabat yang sangat dekat denganku bahkan saking seringnya dia main ke rumah, sampai-sampai dia menyebut ibuku dengan sebutan mamah juga.

Mungkin dia sudah nyaman di rumahku hingga seperti itu.

 

Saat aku bercerita tentang Putri kepada Rara, Rara malah seperti tak peduli dengan omonganku.

Dia bagaikan tidak menghiraukan diriku,  dan yang aku anehkan, dia malah melihat ke arah lapangan, pada Rio mungkin. Dia aneh, ada apa dengan Rara?

 

Beberapa hari kemudian,  Putri datang ke kelas,  dia bilang, “Ca, tau ga?” tanyanya, dan otomatis aku jawab, “Nggak!“

“Yah kamu gimana sih? Kan aku mau ngasih tau kamu!”

 

“Ya kamu juga sih udah tau,  kamu yang punya cerita, kok malah nanya padaku. Dasar Putri…. Putri…..,” jawabku.

“Haha…. Oke, oke maaf, eh Ca,  kamu udah denger belum cerita Si Rara sama Rio?” tanya Putri.

 

“Rara sama Rio? Emang kenapa dengan mereka berdua?”

“Ya ampun Ica,  kamu ketinggalan berita banget.  Ternyata Si Rara sama Rio udah jadian lho, hebatnya Rara bisa dapetin seorang Rio yang perfect bangetlah,”

 

Aku hanya bisa terdiam tanpa kata, seorang Rio yang aku menyukanya dari kelas X sekarang jadian sama Rara sahabatku sendiri.

Ya Tuhan,  apa yang harus aku rasakan?

Senangkah karena Rara sahabatku bahagia, atau sedih karena Rio yang aku suka selama ini telah menjadi milik orang lain  dan orang itu sahabat aku sendiri?

 

Tiba-tiba Rara datang, “Hai guys, tau ga,  tau ga…?  Aku udah jadian sama Rio lho!” katanya girang.

 

Mungkin tangan ini berat untuk kuangkat dan bibir ini sulit untuk berucap, tapi aku hanya bisa berucap dengan nada agak sendu.

“Selamat ya, aku ikut bahagia Ra,”  Kenyataan ini  memang sulit untuk aku terima,  tapi, mungkin itu yang terbaik.

 

Sejak saat itu aku mulai mengurangi jadwalku untuk belajar bareng sama Rio.

Mungkin Rio merasa aneh dengan tingkahku. “Ca,  kok sekarang kamu jarang belajar bareng lagi sih, kamu ke mana,  sakit? Atau apa Ca?”

 

“Aku ga apa-apa kok,  Yo tenang aja,” mungkin di balik senyumku itu terdapat banyak teka-teki karena kalau aku sering bertemu Rio, itu sama saja aku menyakiti hatiku sendiri.

 

Setelah lama kemudian, aku lulus SMA dan aku berniat untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Aku berpikir kalau aku masih memilih sekolah di kota ini kemungkinan besar aku akan bertemu kembali dengan Rio, mungkin aku harus pergi dari kehidupannya.

Hingga aku pun memilih untuk melanjutkan kuliahku di luar kota, tepatnya di Yogyakarta.

 

Tanpa aku sadari pula, ternyata Putri sahabatku, sekarang satu universitas.

Terima kasih ya Tuhan, kau memang tau apa yang saat ini aku butuhkan, yaitu seorang sahabat baik.

 

Di situ aku mulai membuka hati untuk setidaknya bisa melupakan sosok Rio, cinta lamaku semasa SMA.

Aku mulai terbuka pada Putri, aku menceritakan semasa kita masih duduk di bangku SMA.

Masa-masa teristimewaku bisa mengenal Rio, walau tak seindah apa yang aku harapkan.

 

Setelah beberapa bulan aku kuliah,  tanpa aku sadari ternyata Rio satu universitas pula dengan kami. Ya Tuhan apa maksud di balik semua ini? Aku tak mengerti sama sekali.

 

Hari-hari berikutnya, seperti biasa aku dan putri sering sekali melihat Rio dikerumuni perempuan-perempuan cantik di kampus.

Entah apalagi yang engkau rencanakan untukku.

 

Yang jelas aku sekarang berada pada posisi yang membingungkan, apakah aku harus merasa senang karena aku dapat melepas rinduku pada Rio.

Atau malah sakit karena luka yang dulu seakan terasa lagi,  bagaikan luka yang tersiram air cuka.

 

Mungkin memang benar, aku dan Rio bagaikan sepasang sepatu, selalu bersama tapi tak bisa bersatu.

 

Ines Yuana Sadikin

 

Itulah kumpulan cerpen singkat Caraindonesia yang diharapkan bisa menghibur kamu.

Seluruh cerpen singkat ini pernah dimunculkan di Majalah Isma dan telah mendapat izin dari pembina Majalah Isma.

Semoga 22 cerpen singkat  dari kumpulan cerpen singkat tadi bisa bermanfaat ya!

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan