Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Ayah | Di Balik Semua Yang Terlihat

 

Terlahir dari keluarga yang amat sederhana, aku hidup dan dibesarkan oleh pasangan berbeda kota dan adat istiadat.

Ayahku Minang dan Mamaku Sunda. Aku dan dua saudaraku disebut-sebut tak memiliki marga keluarga karena kedua budaya itu memiliki keyakinan yang berbeda soal itu.

cerpen singkat

 

Dari kecil, aku tak menyukai ayah, sehingga membuatku memiliki sedikit jarak dengannya.

Ayah adalah pria berkulit hitam,  bertubuh tinggi besar, dan kasar, ditambah lagi ia tak memberi kepercayaan pada mamaku untuk mengurus keuangan keluarga.

 

Semua pemasukan dan pengeluaran ia yang urus. Untuk makan sehari-hari ia hanya memberi uang pas-pasan untuk mama berbelanja.

 

Mama hanya ibu rumah tangga, ia tak mempunyai penghasilan.

Ia hanya mengandalkan sisa-sisa uang belanja untuk ditabung tanpa sepengetahuan ayah.

 

Jika sudah benar-benar tak punya uang, tak jarang mama meminjam uang kepada sanak saudaranya meski ia sendiri tak tahu kapan bisa mengganti.

Aku benar-benar tak menyukai ayah karena hal ini. Aku beranggapan karena watak Minangnya, ia menjadi sangat pelit.

Dalam sehari, anak-anaknya hanya diberi uang sekitar tujuh ribu rupiah untuk sekolah dan jajan.

 

Jika anak-anaknya membangkang dan melakukan kesalahan, dengan cepat tamparan itu mendarat langsung di pipi.

Bahkan terkadang ia menggunakan sapu lidi atau sabuk untuk mengajarkan anak-anaknya tentang rasa hormat dan kemandirian.

 

Semua itulah yang membuatku ingin pergi dari rumah.

 

2015…

Masa putih abu-abuku telah usai, dan sebuah universitas negeri telah menerimaku untuk menjadi salah satu mahasiswinya.

Aku menyukai hal ini karena aku akan meninggalkan rumah dan beranjak dewasa dengan caraku sendiri.

 

Mama membelikan aku beberapa perlengkapan yang sekiranya akan aku perlukan.

Sebenarnya aku tak ingin membuatnya menjadi sangat repot seperti itu, aku tahu bahwa ia tak memiliki banyak uang.

Seharusnya ia menggunakan uang yang ia punya untuk mempercantik dirinya sendiri.

 

Ayah mengantarku ke tempat kost yang akan aku tinggali selama kuliah.

Ia membantuku memindahkan barang kemudian pamit pulang setelah memberi uang bekalku selama sebulan.

Aku percaya bahwa aku bisa menggunakan uang itu dengan baik, bahkan aku perkirakan uang itu tak akan habis untuk satu bulan.

 

Hari-hariku di kampus berjalan dengan baik, beberapa temanku malah menjadi sahabatku dengan cepat.

Kami sering jalan-jalan, makan bersama, bahkan kami selalu merencanakan untuk menginap.

 

Memang tak mudah untuk akrab dengan orang-orang ini, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata aku bisa melakukannya.

Semua tugas, materi, dan kehidupanku di kampus membuatku lupa dengan sakitnya pukulan dan tamparan ayah pada masa kecilku.

Sampai aku pun lupa kalau dibalik suksesku ada seorang wanita yang rela melakukan apa pun untuk aku. Mama.

 

Sebulan sudah aku melanjani hidupku yang baru dengan predikat mahasiswi.

Aku tak boleh menjadi anak durhaka dengan melupakan kedua orang tuaku, aku harus menelpon mereka.

 

Saat itu hari Jumat. Kurasa ayah sedang pergi salat Jumat ke masjid, jadi kuputuskan untuk menelpon mama.

Kucari nomornya di ponselku, dan mulai menelponnya. Terdengar sambungan telpon yang cukup baik. Tak lama suara yang kukenal menjawab telponku.

 

“Assalamualaikum…, “ katanya begitu lembut. Sudah lama aku tak mendengar suara ini.

“Ma…! “ sapaku dengan gembira. Kemudian ia terdengar sangat senang ketika aku menelponnya.

Kami saling bercerita tentang kehidupan kami yang kini tak tinggal satu atap.

 

“Ma.. Aku habis cuci baju, terus jemurnya ke loteng, jadi capek banget,” aku mengeluh padanya.

“Loh, kok gitu? Enggak apa-apa, kamu kumpulin aja cuciannya, nanti bawa pulang biar Mama yang cuciin.”

 

Mendengar itu hatiku seolah teriris.  Pada umurku yang sekarang, ia masih saja mau untuk mencucikan bajuku.

Aku tak mau ia melakukan itu, sudah waktunya ia berhenti melakukan pekerjaan rumah.

Seharusnya ia menyisakan waktu untuk berlibur atau semacamnya.

 

“Ya, kalau ke rumah, nanti malah aku yang nyuciin baju Mama sama Ayah, hehe…” kataku memecah suasana dan ia pun tertawa.

“Ma.. Kemarin aku dapat nilai bagus di kelas,” kataku mengalihkan topik.

 

“Oh ya? Wah…  berarti Mama harus kasih hadiah, dong?“

Hatiku kembali teriris. Awalnya kuingin membuatnya bangga, bukan malah merepotkannya lagi. Apa aku baru saja salah bicara?

 

Dua hari setelah obrolanku dengan mama di telpon, pada malam Senin sesuatu menggangguku untuk tidur.

Aku terjaga selama beberapa jam sampai akhirnya aku merasa tak enak hati.

Aku tahu sebetulnya ia juga sudah sangat ingin pergi berlibur, aku bisa merasakan itu meski ia tak berbicara.

Beberapa kali aku tak sengaja membaca buku hariannya yang bercerita tentang kehidupannya dengan ayah.

Yang mana tak begitu bahagia karena mereka hampir tak pernah berlibur bersama.

 

Setiap kali mama mengajak ayah pergi jalan-jalan, ayah selalu menolaknya dan berkata, “Mungkin uang yang dipakai pergi main akan lebih bermanfaat jika dibelikan beras.”

“Ih, Mama suka gitu, enggak perlu hadiah apa-apa. Aku cuma minta Mama jaga kesehatan, biar nanti kita bisa liburan bareng ke Jogja,” aku memberinya sedikit semangat.

 

Pagi harinya Senin, aku salat Subuh kemudian berdoa untuk kesehatan kedua orang tuaku dan untuk dua saudaraku.

Pagi itu, aku ingin sekali menelpon mama lagi, tapi karena kuliah yang mengharuskan aku untuk tiba di kelas tepat pukul tujuh, menjadi alasanku untuk menundanya.

 

Di kelas aku kembali merasa baik-baik saja.

Terlena dengan materi-materi yang diberikan dosen sampai tak kurasakan ponselku bergetar karena seseorang menelponku.

 

Setelah dua jam berlalu, kudapati kakakku berdiri di depan pintu gerbang kampus menungguku.

Dia mengatakan, detik itu juga aku harus ikut dengannya kembali ke rumah karena mama sakit mendadak.

 

Dengan cepat aku naik motor dengan kakakku dan memulai

perjalanan ke Cianjur. Kami tak saling bicara, padahal aku ingin sekali bertanya kenapa mama bisa sakit dan di mana ia sekarang.

Tapi bibirku terasa kelu dan takut menerima kenyataan pahit.

 

Belum sampai lima belas menit perjalanan, Ayah mengirimku pesan singkat yang membuatku tak bisa berkedip sama sekali.

“Tadi pagi, Mama sudah dipanggil Allah lebih dulu dari kita. Pulanglah, Nak!”

 

Saat itu juga tangisku meledak dan membanjiri wajahku.

Hari itu matahari bersinarterik, tapi mengapa perasaanku sangat tak karuan.

Rasanya aku ingin kembali ke tiga hari kemarin dan mengatakan bahwa aku sangat mencintai mama.

 

Saat itu juga tangisku meledak dan membanjiri wajahku.

Hari itu matahari bersinar terik, tapi mengapa perasaanku sangat tak karuan.

Rasanya aku ingin kembali ke tiga hari kemarin dan mengatakan bahwa aku sangat mencintai mama.

 

Tiga jam perjalanan Bogor-Cianjur dengan menggunakan motor. Aku terus memeluk kakakku dari belakang.

 

Aku memikirkan suatu hari nanti aku akan menikah tanpa hadirnya seorang ibu.

Kemudian aku akan melahirkan anak tanpa bantuan Mamaku untuk mengurusnya.

Kejadian ini terlalu menyakitkan. Aku tak bisa berpikir jernih dan menjadi begitu egois mementingkan masa depanku sendiri.

 

Sampai di rumah, hal pertama yang aku lihat adalah bendera kuning yang berada di atas pagar rumahku.

Banyak orang yang melihat kehadiranku dengan kakakku tapi mereka hanya diam dan menjadikan kami seolah tontonan gratis.

 

Dengan cepat aku masuk rumah dan aku melihat seseorang yang terbaring lemah dan dibaluti kain putih.

Kakiku menjadi lemas dan aku terjatuh dalam tangis.

 

Beberapa kali aku berteriak seperti orang kesetanan, beruntung tanteku datang memelukku dengan erat.

Dalam tangis yang tak bisa kutahan, ia menceritakan tentang kematian mama yang begitu tiba-tiba, tanpa sakit ataupun tanda-tanda akan pergi.

 

Kemarin ia baru saja pergi berlibur dengan teman-temannya dan kembali malam hari.

Ketika malam sebelum ia tidur, ia masih menemani ayah makan malam sambil bercerita tentang pengalamannya hari itu.

Setelah pergi tidur, ia tak bisa dibangunkan pada pagi hari. Seseorang mengatakan bahwa mkama terkena serangan jantung karena terlalu lelah.

 

Kebanyakan orang menyalahkan ayah atas meninggalnya mama.

Mereka beranggapan mama memiliki tekanan batin yang parah selama hidup berumah tangga dengan ayah.

 

Mereka pun memaksa ayah untuk meminta maaf kepada mama sebelum akhirnya dimakamkan, tapi ayah tak mempedulikankannya.

Ia menanggapinya sebagai candaan semata dan bergegas untuk menyolatkan mama dan memakamkannya.

 

2017…….

Aku iri dengan teman-temanku di kampus yang selalu bercerita tentang ibunya.

Sekarang aku hanya memiliki ayah, orang yang selama ini tak kusukai mulai aku dekati perlahan-lahan.

 

Aku mencoba memperbaiki komunikasi antara aku dengannya. Lama-kelamaan mulai kusadari pengorbanan yang dilakukan ayah untuk keluarga ini.

 

Tanpa seorang istri, berat badannya turun drastis selama dua tahun.

Kuputuskan untuk tinggal beberapa hari di rumah jika libur datang untuk sekedar membersihkan rumah dan memasak untuk ayah juga adikku.

Ayah bilang masakanku sama enaknya dengan masakan mama. Hal itu membuatku merasa sangat dibutuhkan.

 

Hari-hariku di rumah menjadi sangat berbeda, banyak hal yang kusadari setelah kepergian Mama.

Kulihat kulit hitam ayah itu timbul karena terus bekerja di bawah terik matahari.

Uang yang ia hasilkan tak lain dan tak bukan ternyata hanya untuk membesarkan aku dan dua saudaraku.

 

Mungkin ini terdengar seperti hal yang biasa saja dan tak ada istimewanya, karena kewajiban seorang ayah adalah menafkahi keluarganya.

Tapi aku sangat tertegun ketika mendengar semua cerita ayah tentang uang yang selama ini ia simpan.

 

Saat aku berpikir bahwa selama ini ayah adalah orang yang pelit bahkan untuk dirinya sendiri.

Tapi ternyata ia telah menabung sehingga bisa membeli sebuah rumah besar dengan luas sekitar 300m₂ atas nama mama sebagai kado ulang tahun untuknya.

Sayangnya hal ini tak sempat ia sampaikan kepada mama karena mama meninggal seminggu sebelum ulang tahunnya.

 

Soal sifat kasarnya kepada aku dan dua saudaraku adalah bentuk kasih sayang yang tiada tara.

Aku dan dua saudaraku dididik dengan pukulan dan tamparan dari tangan ayah.

 

Akan tetapi pada usiaku kini, aku sadar bahwa didikan ini menjadi bekalku sekarang.

da perbedaan antara aku dengan teman sebayaku yang lain.

Tak kusangka ayah adalah orang yang romantis dan begitu mencintai mama.

 

Ayahku, hanyalah seorang guru akuntansi di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan.

Setiap hari ia pergi mengajar dengan sepatu dan tas yang sama, bahkan ia juga sering memakai baju kusut tapi ia tak peduli.

 

Terlihat dari caraku bertindak dan menjadi pribadi yang mandiri, aku siap menghadapi setiap masalah.

Tak seperti kebanyakan temanku di kampus yang terlihat begitu cengeng dan manja, mereka selalu ingin pulang ketika ada waktu senggang.

Kemudian tanpa ada sikap tanggung jawab mereka menyerahkan semua tugas kelompok kepada teman yang menghabiskan liburannya di kamar kost.

 

Selama ini aku begitu bodoh karena menutup mataku dari kenyataan itu.

Meninggalnya mama membuatku sadar bahwa seorang ayah sebenarnya sangat berperan penting dalam hidupku.

Aku hanya membutakan mataku dan tak menyadari itu sebagai anugrah yang Allah berikan untukku.

 

Kini aku lebih menghormati ayah.

Aku pun tak pernah menunda waktu untuk menelpon ayah walaupun hanya untuk bertegur sapa.

 

Aku sadar penyesalan pasti akan datang terakhir, maka aku tak ingin menjadi bagian dari penyesalan itu.

Kukatakan padanya bahwa aku sangat bersyukur memiliki ayah seperti dirinya.

“Ayah, terima kasih sudah menjadi ayahku,” gumamku lirih.

 

Anisa Meliana

 

Lanjut baca ke cerpen cinta, Zahra di Langit Senja

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan