Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Cinta | Januari Mengikhlaskanmu

 

 

Gemericik air hujan menemani lamunanku sore itu, hawa dingin perlahan-lahan kian menjalar menusuk sekujur tubuh.

Semilir aroma tanah pun kian menguat seiring dengan bertambahnya deras air hujan.

Memang benar, November hingga Januari adalah bulannya hujan. Aku pun semakin tenggelam dalam khayalanku dan semakin sibuk pula aku dengan pikiranku sendiri.

cerpen cinta

 

“Siti, ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kuperhatikan kamu melamun terus,” tanya Zahra teman sebangku yang memecah lamunanku.

”Ah tidak ada apa-apa kok Ra,” jawabku menyembunyikan apa yang tengah aku pikirkan dan rasakan.

“Hati-hati lho ya, ini sedang hujan, awas kesamber geledek loh…” celoteh candanya seperti biasa.

 

Sejujurnya, entah mengapa aku merasa asing berada di sekolah ini, seolah hampa yang terasa.

Hingga pada akhirnya salah seorang sahabatku Denisa, menyampaikan sesuatu yang tak bisa aku cerna bergitu saja…

 

“Sit, ada salam nih dari seseorang,” aku pun bertanya penuh keheranan.

“Dari siapa?”, tanyaku.

“Ada deh,” jawabnya menyisakan keheranan dalam relung batinku.

Aku pun menjawab salamnya dan berusaha untuk tidak lebih dalam untuk mencari tahu siapakah dia.

 

Hari berganti hari hingga minggu berganti minggu, sahabat-sahabatku terus menyampaikan ucapan salam dari seseorang yang misterius itu.

Setiap kali aku bertanya kepada mereka, siapakah orang yang menitipkan salam itu, mereka hanya tersenyum tanda mereka menyembunyikan sosok pemberi salam itu.

 

Secara tidak langsung, aku pun tertekan secara batin mencari pelaku “teror salam itu”. Pada malam harinya, ponselku berdering menandakan ada sebuah pesan yang masuk.

Aku tidak mengetahui pengirim pesan itu siapa karena pada ponselku hanya bertuliskan nomor pengirim dan pesan berisi “assalamualaikum…”

 

“Mungkinkah dia si pengirim salam misterius itu?” gumamku dalam hati.

Aku pun memberanikan diri  membalas salamnya dan memulai beberapa percakapan dengan orang itu.

Ia pun mengakui bahwa ialah yang mengirimkan salam beruntun  itu yang ia sampaikan dengan kosa kata yang begitu rapi.

 

Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatku, namun, seperti biasanya mereka menyembunyikan semuanya  dariku.

Hingga akhirnya Allah memberikan jalan padaku untuk mengetahui “siapa dia”, saat kupinjam ponsel salah seorang sahabatku.

 

Secara  tak sengaja aku membuka salah satu pesan dan mencocokkan setiap nomornya.

Hatiku tak karuan, antara senang, gugup dan harus melakukan apa, karena ternyata selama ini yang mengirimkan salam itu adalah Kak Fahmi.

Seorang yang begitu  terpandang dengan kesalehan dan kecerdasannya yang sesuai dengan namanya.

 

Tidak seperti malam-malam lainnya, malam ini aku sengaja menunggu Kak Fahmi mengirimkan pesan padaku.

Antara senang dan rasa tidak percaya  pun bercampur mengubah tingkahku yang tersenyum sendiri ketika membalas surel yang ia kirimkan.

Kami  pun larut dalam percakapan sehingga memunculkan sebuah rasa yang tidak bisa aku gambarkan.

 

Awalnya aku merasa ragu dan tidak percaya, namun dari hari ke hari, ia selalu meyakinkanku.

Dengan sabar ia menuntunku, memberikan banyak motivasi, mengajakku untuk senantiasa beribadah, mengingatkanku, membahagiakanku, mendengar semua ceritaku, menjadi sandaran, menenangkanku dan menjagaku.

Semua terasa begitu lembut dan nyaman walaupun aku hanya bisa tertunduk malu kala berpapasan dengannya dan sesekali menyapa nya dengan salam.

 

Hanya dengan itu saja aku sudah merasa senang dan bahagia sekalipun belum pernah berbincang langsung dengannya.

Aku pun hanya bisa memerhatikannya dari jauh, memerhatikan dengan sebuah senyuman yang tersembunyi.

 

Terkadang harus menyimpan rasa cemburu dalam hati yang bergejolak kala melihat ia bercengkrama dengan akhwat lain dan masa lalunya.

Walau sekedar saling membalas komentar di sosial media. Semua itu kusimpan rapat  tak kuasa menyampaikan, karena kuyakin semua itu hanya mengikuti hukum alam yang diciptakan Tuhan.

 

Hingga pada suatu malam, ia tiba-tiba berubah total. Tidak ada kata-kata penghangat seperti biasanya dan obrolan pun terasa sangat dingin,.

Aku pun mencoba bertanya tentang apa yang terjadi, namun ia pun menyembunyikannya dan mengakhiri obrolan dengan salam.

 

Malam itu, hatiku gundah tak menentu.

Hingga pada keesokan harinya, salah seorang sahabatku menuturkan bahwasanya ia diserang oleh seseorang yang tidak dikenal dengan mengatasnamakan pacarku.

Hatiku begitu sakit saat aku tau bahwa aku difitnah seseorang yang tak bertanggung  jawab dan menyakiti orang yang memiliki perangai yang begitu baik.

 

Saat itu aku merasa khawatir. Aku hanya bisa menangis serta berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari segala  fitnah dan agar senantiasa dilindungi.

Akhirnya secara perlahan ia pun pergi meninggalkanku.

 

Berat sekali rasanya ditinggalkan orang terkasih karena fitnah sekeji itu. Aku merasa terinjak dan dihinakan.

Pelangi indah itu terasa dan berubah menjadi awan kelabu, ponselku yang biasanya hangat oleh pesan-pesan nasihatnya, kini mulai tak berdering.

 

“Apakah ia membenciku atas semua ini ?” mengingat ia memiliki luka lebam di sekitar pipi dan tangan pascakejadian itu.

Aku merasa bersalah padanya, sekalipun perangainya di sekolah tidak berubah, namun tetap saja hati kecilku tidak bisa bohong bahwa aku masih tetap mengkhawatirkanya.

 

Berbulan-bulan  setelah kejadian itu, aku mengikuti sebuah kajian ilmu dari ustaz sekaligus pembina rohis di sekolahku.

Beliau menuturkan mengenai hakikat mengikhlaskan dan sontak dalam pikiranku terlintas semua tentangnya.

 

Aku sadar bahwa aku masih bisa memilikinya dalam doaku sekalipun, aku tak ada dalam genggaman perasaanya.

Hal itu baik untukku, karena aku dapat menjaga kesucian diri dan tidak merusak fitrah dari perasaan itu sendiri.

Pada akhirnya,  aku pun memutuskan untuk tetap menjaga dan menyertakan namanya dalam setiap doaku.

 

Akhirnya perpisahan  kelas dua belas pun tiba. Aku merasa  sedih karena tak akan melihatnya lagi di sekolah.

Aku akan merindukan setiap perangai uniknya.

Namun aku hanya bisa memendam dan ikut menyaksikannya di balik bangku penonton dalam diam dan bergumam “semoga sukses” dalam hati.

 

Setelah sekian lama, ini adalah bulan Januari ketiga setelah perpisahan itu.

Sudah beberapa tahun sejak perpisahan itu dan aku tetap menjaga namanya dalam doa.

 

Aku hanya bisa mengetahui kabarnya dari beberapa catatan prestasi dan tautan nasihat nya di sosial media.

Hingga pada akhirnya aku melihat sebuah foto yang berkonten dirinya dengan seorang gadis berniqob mata biru hazel dengan undangan di tangan mereka.

 

Hatiku benar-benar sakit, dadaku terasa  sesak melihatnya dan tanpa sadar air mat ku pun menetes.

Aku hanya bisa mengadukan semuanya kepada Allah setelah selesai salat dan mengadukan semua urusan kepada-Nya.

Alhamdulillah aku pun tenang untuk beberapa hari berikutnya dan hingga minggu berikutnya.

 

Pada suatu malam, tepat sesaat ba’da salat Isya, ayah memanggilku ke ruangan tamu sekaligus membawakan minuman untuk tamunya itu.

Aku pun menundukkan pandangan saat mengantarkan minuman ke ruang tamu, tanpa melihat sekeliling ruang tamu.

Setelah menyimpan gelas di meja tamu, ayah tidak menyuruhku untuk bergegas ke kamarku kembali, melainkan menemaninya sesaat terlebih dahulu.

 

“Siti duduk dulu di sini 5 menit aja, kan gak sopan jika langsung meninggalkan tamu,”

Aku pun mengiyakan perintah ayah dan langsung duduk tanpa melihat sekitar karena tidak enak dengan tamu ayah.

“Assalamualaikum, bagaimanakah kabarmu? Masya Allah kau sudah banyak berkembang ya,”

 

Aku sangat  terkejut mendengar suara yang begitu aku rindukan dan langsung menujukkan arah mataku pada sumber suara itu.

Subhanalloooh….benar saja,  itu adalah  Kak Fahmi yang kini benar-benar berada duduk di hadapanku.

Hatiku bercampur aduk saat itu, dan dalam hati aku bergumam “apa yang ia lakukan di sini ?”

 

Semua itu terasa sangat hampa dan remuk redam saat kulihat ia membawa undangan di tangannya.

Tak lama kemudian ia memberikan undangan itu padaku dan dengan begitu berat hati kuterima.

Kulihat undangan itu, ternyata gadis berniqob bermata hazel biru itu adalah saudarinya yang akan menikah bulan depan dan entah mengapa hati sangat  lega melihatnya.

 

“Nak, Dik Fahmi kemari untuk menyampaikan undangan itu dan untuk menyampaikan niat baiknya kepadamu.

Kemarin malam keluarganya datang ke sini  dan menyampaikan itu semua pada ayah dan mamah.

Ayah dan mamah menerimanya, namun semua itu dikembalikan lagi padamu, bagaimana? Apakah kamu mau?”

 

Aku sangat   terkejut  tapi bahagia  dan seolah tak percaya bahwa seseorang yang selama ini aku “semogakan” ternyata “tersemogakan”.

Aku hanya bisa tertunduk malu dan berujar lirih.

 

“Iya, aku mau Ayah, ” semua pun sepakat, termasuk Kak Fahmi yang tersenyum bahagia mendengar jawabanku.

Setelah serangkaian acara khitbahan itu, tak lama dari itu kami melaksanakan ibadah pernikahan di masjid dekat rumahku dan kami pun berakhir bahagia.

 

Siti Khodijah

 

Cerpen singkat persahabatan berikut juga tidak kalah berkesan, Arti Sebuah Senyuman

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan