Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Singkat Persahabatan | Arti Sebuah Senyuman

 

 

Mungkin suuatu hari nanti aku akan merasa lelah, mungkin suatu hari nanti aku akan akan merasa jenuh dan mungkin suatu hari nanti aku akan sakit dan meninggal.

cerpen singkat persahabatan

 

Sebelum semua itu terjadi, aku akan berusaha melakukan hal yang terbaik, aku akan mencoba menjadi orang yang berguna untuk orang lain.

“Yakin” satu kata itu yang membuat aku tetap bertahan sampai saat ini.

 

Aku adalah seorang mahasiswi di Universitas Terbuka, mahasiswi yang hanya mengandalkan sebuah keberuntungan.

Kuliah itu sullit bagiku, ini bukan bicara soal ujian ataupun pelajaran tapi ini bicara dana dan materi.

 

Aku adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu, ayahku seorang kuli tani dan ibuku adalah seorang penjaga warung kecil.

Perlu berjuang keras untuk mendapatkan uang.

Mereka pernah melarangku meneruskan sekolah dan hal itu pula yang mereka lakukan saat aku masuk SMA.

 

Tapi buktinya Allah memberikan kemudahan dan menuntunku pada kesuksesan.

Aku percaya keberuntungan itu ada, aku percaya semua harapan pasti terjadi jika kita selalu yakin dan berusaha semampu yang kita bisa.

 

“Riva,” seseorang memanggilku.

“Iya,” jawabku dengan membalikkan badan dan melihat ke belakang.

 

“Kamu Riva temannya Nataliya?” Tanya seorang ibu berkerudung putih yang mulai menghampiriku.

“Oh iya, saya temannya Nataliya, Ibu siapa ya?”

 

“Riva, Ibu tau kamu sahabat Lya dari SMA. Kamu mau bantu Ibu, tolong kamu bujuk Lya,” kata si ibu seraya meraih tangan kiriku.

“Iya Bu, tapi bantu apa, dan apa yang terjadi dengan Lya?”

 

“Sekarang kamu ikut ke rumah Ibu ya, kamu harus lihat keadaan Lya sekarang,”

“Baik Bu, saya akan ikut ke rumah Ibu,” ucapku dan bergegas pergi.

 

Aku pikir cuma aku yang merasa sulit, aku pikir cuma aku yang merasa menjadi orang paling tidak beruntung.

Aku pikir cuma aku satu-satunya orang yang menderita dan berjuang keras untuk hidup.

Selama ini aku masih menutup mata dari lingkunganku sendiri.

 

Aku hanya melihat dan membandingkan hidupku dengan orang-orang yang lebih sempurna dari aku.

Selama ini aku hanya melihat ke atas dan merasa aku berada paling bawah.

 

“Lya,” ucapku setelah sampai di rumah Lya dan aku melihat Lya tengah duduk di kursi roda.

Dia duduk bagai bayi yang tidak bisa apa-apa. Aku melihat lilitan perban di kakinya, kaki yang aku lihat hanya tinggal sebagian.

Astaghfirullohaladzim, aku tak pernah tau apa yang terjadi dengan sahabatku.

 

“Lya, kamu kenapa?” ucapku sambil mendekatinya dan aku bermaksud untuk memeluknya, namun tiba-tiba Lya mendorongku.

“Pergi, aku gak kenal sama kamu,” sebuah kalimat yang diucapkan Lya seperti pisau yang menancap di bagian hatiku.

“Lya,” aku memanggilnya kembali, aku tak tau mengapa Lya marah tapi aku tidak bisa apa-apa selain menangis karena melihat keadaan Lya.

 

“Kenapa kamu gak ada di saat aku terpuruk,” ucap Lya serasa meneteskan air mata.

“Lya, aku minta maaf. Aku gak tau kalau kamu sakit, aku….”

 

“Aku apa?” ucap Lya menghentikan perkataanku.

“Lya, andai kamu tau,”

 

“Tau apa, tau kalau kamu malu jadi sahabat aku. Iya kan?” lagi-lagi Lya selalu memotong pembicaraanku.

“Lya boleh marah ko, Va gak akan bicara lagi dan Va akan terima semua apa pun yang mau Lya ucapkan,” jawabku sambil menangis.

 

“Kenapa? Kenapa kamu mau menerima apa pun ucapanku. Kenapa kamu gak mencoba untuk menjelaskan semuanya, kenapa?”

“Karena aku tau Lya gak akan marah kalau aku gak punya salah,” ucapku sambil menundukkan kepala.

 

“Riva gak salah ko, Lya cuma kesel sama diri Lya sendiri. Lya cuma pengen mati,”

“Astaghfirulloh Lya, istighfar…!” ucapku sambil memeluk Lya.

 

“Coba Va liat keadaan Lya sekarang, Lya gak punya kaki yang utuh, Lya gak bisa jalan, Lya gak bisa lari lagi, Lya gak bisa jalan-jalan kaya dulu lagi,”

“Lya, kamu gak boleh putus asa. Ini cobaan, Allah cuma menguji kesabaran Lya. Allah cuma menguji iman dan takwa Lya,”

 

“Tapi Allah jahat sama aku, kenapa aku dibiarkan hidup cacat kaya gini. Kenapa Allah gak biarin aku mati, kenapa?”

“Lya, dengerin aku, Lya mau apa? Va akan coba mewujudkan semuanya kalau Va bisa. Tapi tolong jangan putus asa kaya gini?”

 

“Aku minta kaki, aku pengen punya kaki lagi. Kamu bisa mengembalikan kaki aku?”

“Gak, Va gak bisa ngasih Lya kaki, tapi Va akan coba membantu Lya untuk berjalan dan menemani Lya ke mana pun Lya mau,”

 

“Riva, makasih. Makasih udah ada untuk aku saat ini, makasih,” ucap Lya sambil memelukku dan aku pun memeluk Lya kembali.

Ini semua sulit bagi Lya dan ini juga sulit bagiku.

 

“Lya gak perlu bilang makasih, Va pasti bantu Lya kalau Va bisa. Va janji,”

“Iya, sekali lagi makasih,” ucap Lya sambil tersenyum.

Senyuman yang terlihat pedih.

Senyuman yang terlihat sangat sakit dan senyuman terakhir yang aku lihat dari wajah cantiknya.

 

Tanggal 26 Juli 2013 pukul 04. 25 tepat ketika azan dikumandangkan, Natalya Wijaya telah wafat.

Tepat pada hari Jumat Natalya Wijaya telah pulang ke Rahmatullah, Natalya Wijaya telah meninggalkan begitu banyak kenangan indah.

Dia telah menyimpan begitu banyak senyuman pada sahabat-sahabatnya, saudara-saudaranya dan orang-orang yang selalu menyayanginya.

 

Lya sahabatku, kamu memang telah pergi tapi namamu akan selalu hidup di hatiku.

Sahabatku, semoga  kamu tenang di alam sana dan kamu harus tau Allah mengabulkan apa yang kamu minta kemarin.

 

Saat kamu bilang kamu ingin meninggal dan menangis seperti memohon, sesungguhnya Allah mendengar semua apa yang kamu katakan dan Allah mengabulkannya.

Itu membuktikan Allah sayang sama Lya, Allah telah menguji kesabaran Lya dan sekarang Lya sudah ada di sisi-Nya.

 

Aku cuma bisa mengirim doa dan selalu berharap Lya lebih bahagia di alam sana.

Kepergian Lya memberikan pelajaran baru untukku, sesungguhnya kita selalu menjadi orang yang beruntung.

Hanya  kita tidak pernah paham dan tidak pernah mengerti tentang arti keberuntungan itu.

 

Jika kita menghadapi kesulitan, justru itu adalah kemudahan bagi kita dan kita harus bisa membuat kesulitan itu menjadi awal sebuah perjuangan.

Mungkin kemarin aku merasa hidupku sangatlah sulit, aku tidak bisa kuliah di tempat favorit seperti teman-temanku dan aku juga harus berjuang keras untuk bisa kuliah.

Namun Lya menyadarkan aku tentang arti sebuah usaha, dia memberikan aku arti tentang semangat baru dan dia juga mengingatkan aku tentang arti sebuah keberuntungan.

 

Sekarang aku percaya dan aku bersyukur dengan hidup yang aku jalani, jika aku harus mencari uang untuk kuliah, mungkin itu adalah jalan agar aku bisa menghargai arti sebuah perjuangan.

Jika aku tidak bisa kuliah di universitas favorit, itu bukan masalah karena di mana pun kita kuliah, jika pribadinya berkualitas maka kita pasti sukses.

Ini adalah pengalaman berharga tentang hidupku dan sahabat sejatiku.

 

Hal ini yang mengajarkan aku tentang arti sebuah kehidupan dan hal ini pula yang membuat aku menjadi anak yang lebih tegar dalam menghadapi masalah, dalam menghadapi cobaan, dan menghadapi perkembangan hidup.

Aku cuma ingin semua orang sadar tentang indahnya hidup dan kisah-kisah di dalamnya. Aku tidak akan lupa tentang arti sebuah senyuman dan pentingnya semangat dalam hidup.

 

Risi Noripa

 

Cerpen hantu, Sesosok Gadis dan Pohon Tua, pada bagian berikut dari kumpulan cerpen singkat akan menimbulkan rasa penasaran ketika membacanya!

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan