Biografi Pangeran Diponegoro: Keraton dan Perlawanan

Membaca biografi Pangeran Diponegoro dari kisah perangnya melawan penjajah Belanda, menjadi salah satu sejarah paling menarik dalam sejarah penjajahan Belanda.

Di warnai dengan kekejaman dan penuh dengan intrik, kolonialisme di nusantara tidak tak akan bercokol tanpa tangan pribumi yang menghamba pada kekuasaan asing.

 

Termasuk ketika sejarah merekam cengkraman kolonialisme di tanah Jawa pada abad ke-19.

Di Jawa, kolonialisme membelah-belah kekuasaan menjadi beberapa keping.

Para penguasa Jawa memilih takluk dibawah kekuasaan asing.

Advertisements

Rakyat dibuat menderita bukan oleh politik tetapi juga sistem ekonomi yang dipaksakan kepada mereka.

 

Di artikel ini dapat dibuktikan, pernyataan bahwa alasan perlawanan Pangeran Diponegoro karena didasarkan perebutan lahan adalah omong kosong.

 

Ini adalah biografi Pangeran Diponegoro yang menceritakan kisah sebenarnya dari perjuangan Pangeran diponegoro melawan penjajahan Belanda.

Pangeran Diponegoro
Gambar Pangeran Diponegoro oleh A.J. Bik tahun 1830. Sumber: https://www.geheugenvannederland.nl

Biografi Pangeran Diponegoro

Nama asli Pangeran Diponegoro semasa kecil adalah Bendoro Raden Mas Mustahar.

Sejarah Pangeran Diponegoro kecil lebih banyak dipengaruhi oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng Tegalrejo.

 

Nenek buyutnya bukan saja dikenal sebagai muslimah yang taat, tetapi juga wanita perkasa yang melahirkan Sultan Hamengku Buwono II dalam masa Perang Giyanti.

Beliau juga menjadi komandan pengawal perempuan elite atau korps prajurit estri.

 

Dalam sejarah Pangeran Diponegoro, Ratu Ageng-lah yang mendidik beliau secara relijius dan lebih mendalami agama dibanding para bangsawan keraton lainnya.

Jarang diketahui dalam sejarah Pangeran Diponegoro, bahwa beliau mendapat Pendidikan ala pesantren yang menekankan pada Al-Qur’an dan Hadist.

 

Pangeran Diponegoro berasal dari Tegalrejo. Di tempat ini, kehidupan memang lebih lekat dengan para santri.

Hal ini diungkapkan dalam Babadnya, yang mana banyak menjadi biografi Pangeran Diponegoro ;

Cicitnya tidak pernah berpisah sambil diberi pelajaran.

Tegalreja sangat makmur, semua orang yang datang mengungsi mencari makan sang santri mencari ilmu, tempat ibadah sangat ramai, begitu juga yang Bertani.

 

Lingkungan Islam yang taat di daerah asal Pangeran Diponegoro, Tegalrejo, inilah menjadikannya lain dari penghuni keraton Yogyakarta yang ada ketika itu.

 

Advertisements

Syaikh Abdul Ahmad Abdullah al-Anshari, seorang arab, menjadi salah satu orang yang berada di daerah asal Pangeran Diponegoro.

Syaikh Abdul Ahmad Abdullah al-Anshari bukanlah seorang dari kalangan priyai, yang mana Pangeran Diponegoro juga banyak bergaul.

Lalu beliau menikah dengan wanita keturunan Sultan Hamengku Buwono I.

biografi pangeran diponegoro
Dapatkan Paket Kuasa Ramalan di Sini

 

Dari Abdul Ahmad ini lah sepertinya Pangeran Diponegoro banyak terpengaruh dalam hal agama.

Selain itu Pangeran Diponegoro juga memiliki minat terhadap kitab-kitab.

Sejarawan Peter Carey yang menulis biografi Pangeran Diponegoro berjudul Kuasa Ramalan menyebut, Pangeran memiliki minat terhadap banyak kitab-kitab (fiqih) Hukum Islam.

 

Melihat Kebobrokan Dari Dalam Keraton

Di lain sisi, sebagai seorang bangsawan Jawa, dirinya tak bisa lepas dari kebudayaan Jawa yang melekat pada para bangsawan.

Dalam sejarah Pangeran Diponegoro, kisah-kisah dalam pewayangan seringkali ia samakan dengan hidupnya.

 

Sebagai seorang bangsawan, dirinya pun memainkan peran penting dalam Keraton Yogyakarta.

Saat Daendels melakukan kunjungan resmi ke Keraton pada 29 Juli 1809, Sang Pangeranlah yang mendapat tugas menyambut Daendels di Kalasan.

 

Ia memimpin Prajurit Kadipaten sebagai utusan ayahnya, Putra Mahkota.

Ia pula yang ditunjuk sebagai salah satu dari empat wali dari Sultan Hamengku Buwono IV yang masih balita.

Silsilah Pangeran Diponegoro sebagai bangsawan membuat kita memahami betapa ia adalah orang penting dalam keraton.

 

Hanya saja, ia turut menyaksikan kebusukan yang terjadi di dalam keraton.

Misalnya, ketika pemerintahan Perancis-Belanda yang diwakili Daendels melucuti kewenangan-kewenangan Keraton.

Berbagai perjanjian Keraton dengan Daendels membuat wilayah mereka dicaplok satu persatu.

pangeran diponegoro patung

 

Pangeran Diponegoro juga menyaksikan ketika Inggris di bawah Raffles menginjak-injak martabat Keraton.

Tentara Inggris pada Juni 1812 menyerbu Keraton dan menjarah habis-habisan harta mereka.

 

Para pejabat senior Keraton dipaksa menyerahkan keris-keris mereka yang bertahtakan permata.

Harta kebudayaan keraton seperti Gamelan, wayang kulit, bahkan arsip-arsip turut diangkut keluar keraton. (Peter Carey: 2014)

 

Di depan mata Pangeran, ia melihat bagaimana kakeknya, Sultan Hamengku Buwono II, digiring oleh para tentara Inggris.

Lalu kemudian Sang Sultan diasingkan, digantikan oleh ayahnya Pangeran, yaitu Sultan Hamengku Buwono III atas petunjuk Inggris.

 

Pangeran Diponegoro sendiri selama ayahnya menjabat, menjadi penasehat bagi ayahnya.

Ayahnya kemudian pada Juli 1812 menganugerahkan gelar Pangeran Diponegoro kepadanya. Sebelumnya ia dikenal sebagai Raden Ontowiryo.

 

Yang tak kalah menyakitkan bagi Pangeran Diponegoro, ia melihat bagaimana kewenangan hukum Keraton dipreteli oleh Inggirs.

Sejak Februari 1814, Pengadilan Residen dibentuk dan menerapkan norma hukum asing yang berbeda bagi orang Tionghoa, warga asing dan kaum pendatang.

Sehingga Pengadilan Surambi yang memakai hukum Islam tak lagi menjadi satu-satunya lembaga pengadilan untuk menyelesaikan kasus-kasus kriminal.

 

Dengan nada pahit, pangeran mengatakan;

“Penguasa [Eropa] di Jawa menjadi pertanda kemalangan besar bagi orang Jawa, sebab rakyat telah dijauhkan dari hukum ilahi yag disampaikan oleh Nabi dan dipaksa tunduk pada hukum Eropa.”

(Peter Carey: 2014)

Ketika Inggris angkat kaki dan digantikan oleh Belanda ternyata keadaan tidak berubah, bahkan semakin parah.

 

Perilaku Menjijikan Penjajah Belanda 

Residen Yogya asal Belanda, Nahuys van Burgst bukan saja berkuasa atas Keraton, tetapi juga menularkan gaya hidup Belanda pada para penghuninya.

Nahuys gemar akan gaya hidup mewah nan boros.

Pesta pora ditemani minuman keras yang terus mengalir bersama para orang pribumi (priyayi) menjadi pemandangan yang lazim.

 

Pangeran Diponegoro juga menilai hal yang sama. Menurutnya, Nahuys;

“Senangnya pesta dan mabuk serta perayaan cara Belanda walau kerabat kerjaaan, yang muda-muda sudah terkena pengaruh, semua halal haram tidak peduli.” 

(Pangeran Dipanegara: 2016)

 

Perilaku seks para pejabat senior Belanda juga mengejutkan orang Jawa. Nahuys meniduri istri dari wakilnya sendiri, R.C.N. d’Abo.

Para pejabat bawahan bahkan menggoda dan mengambil ibu anak-anak ningrat Jawa.

 

Pengaruh ini merasuk pada para bangsawan Keraton.

Sultan Hamengku Buwono IV yang meninggal usia muda nampaknya terpengaruh gaya hidup pesta pora Nahuys.

Ia menjadi Raja pertama yang terpengaruh gaya hidup kebarat-baratan.

 

Anaknya, Sultan Hamengku Buwono V, nantinya, bahkan sudah terkena penyakit sifilis pada usia 20 tahun akibat gaya hidup yang tak terkendali.

Ia gemar minum-minuman keras dan main perempuan.

Willem van Hogendrop, penasehat pemerintah kolonial, akhirnya menilai kebijakan baru Belanda telah mengubah Keraton menjadi rumah Bordil.

 

Maka tak heran jika Pangeran Diponegoro nantinya melihat kebejatan moral Keraton hanya bisa ditumpas dengan penghancuran total dan dibangun kembali dengan naungan hukum Islam.

Nahuys bukan saja membawa virus kebejatan moral, tetapi juga memerintah dengan kejam.

 

Penangkapan seorang ulama bernama Kiai Murmo adalah salah satu yang mengecewakan Pangeran Diponegoro.

Kiai Murmo, seorang guru agama yang kaya dan terpandang ditangkap tiba-tiba dan diasingkan menurut Diponegoro.

Ini terjadi hanya karena Belanda ingin menguasai harta benda miliknya dan menjarah Desa Kepundung.

 

Nahuys meski memahami penangkapan ulama tersebut sangat berdampak buruk di Keraton, namun merasa bangga memerintah dengan tangan besi.

Praktek seperti ini dilakukan misalnya tanpa segan menangkap ulama yang sedang mengajar di pesantren.

 

Penjajahan dan Rakyat yang Tercekik

Sejak kedatangan Inggris, Raffles memberlakukan skema pajak tanah yang menyebabkan beban hidup semakin berat.

Bukan saja pajak yang begitu tinggi, tetapi juga Raffles mewajibkan pajak dibayar dalam bentuk uang perak tunai pada para penggarap ladang pertanian.

Ini menyebabkan para petani terjebak dalam perangkap rentenir Tionghoa.

 

Kedatangan Belanda menggantikan Inggris tidak membuat keadaan semakin baik.

Terutama kedudukan Nahuys sebagai Residen Yogyakarta dan Surakarta membuatnnya sangat berkuasa.

Ia membujuk Sultan Muda untuk menyewakan tanah-tanah Kesultanan pada petani Eropa yang bermodal besar.

 

Para pangeran dan priyayi Keraton memang mendapatkan uang atas lahan-lahan yang disewakan, tetapi hubungan batin mereka dengan kaum tani penggarap runtuh dan hilang.

Para petani menganggap orang-orang Eropa penyewa lahan sebagai “orang-orang asing penindas.”

 

Lagipula para priyayi dan pangeran tersebut menghamburkan uang hasil sewa untuk kehidupan hedonis.

Mereka berfoya-foya seperti meningkatnnya konsumsi minuman alkohol, mengimpor perabot Eropa, kereta kuda hingga bermain judi kartu.

 

Para petani semakin sulit ketika mereka harus melewati gerbang-gerbang cukai yang dikelola orang-orang tionghoa.

Orang-orang Tionghoa di mata rakyat Jawa memang kala itu memang negatif.

 

Pasca 1816, Pemerintah Eropa menempatkan orang-orang tionghoa sebagai pemungut pajak dalam gerbang cukai (bandar) dan Candu.

Kala itu seorang Jawa yang pergi ke pasar terpaksa harus mengantre berjam-jam sebelum barang muatannya diperiksa.

 

Dan jika kerbaunya selama menunggu, merumput di tanah milik gerbang cukai, ia akan dikenakan denda.

Jika ia tak sanggup membayar denda, kerbaunya akan ditahan.

Tak jarang seorang petani menyerahkan sebagian besar keuntungan panen padi miliknya untuk menyewa kembali kerbau miliknya sendiri dari bandar setempat.

 

Lebih mengenaskan lagi, petani yang menunggu antrean panjag di gerbang cukai, sering harus bermalam dan muncul godaan tambahan yang tak kalah gawat dan memperdaya.

Ronggeng (gadis-gadis penari), prostitusi, permainan judi kartu, dan candu semakin menjadi-jadi.

 

Hal ini menguras uang para petani sampai terpaksa menyerahkan pakaian, harta terakhir miliknya.

Banyak petani yang berhutang akhirnya menjadi bandit atau kuli panggul di jalan-jalan.

 

Hal ini menimbulkan dendam di kalangan wong cilik, mereka kemudian meminta bantuan bandit untuk mencuri atau menjarah para bandar.

Di mata orang Jawa, orang-orang tionghoa dianggap sebagai penjaga ras pabean (bandar).

Bagi pemerintah Eropa hal ini bukan masalah selama pemasukan tinggi yang mereka tuntut dapat dipenuhi oleh orang-orang tionghoa.

 

Tidak  semua orang tionghoa itu dipandang penindas oleh penduduk setempat.

Di Wirasaba, Jawa Timur, penyewa tanah seperti Lib Sing, yang mengendalikan lebih dari 200 desa, dianggap sebagai “majikan yang baik hati dan pemurah.”

 

Penindasan, kebejadan, kehancuran tatanan keraton hingga kewenangan keraton yang diobok-obok membuatnya perlahan meninggalka kehidupan Keraton.

Puncaknya, saat ia menjadi wali Sultan Hamengku Buwono IV yang masih balita, ia merasakan intervensi Penguasa Kolonial yang semakin dalam.

 

Menuju Perlawanan Pangeran Diponegoro

Residen baru Yogyakarta pengganti Nahuys, Jonkheer Anthonie Hendrik Smissaert, bertindak keterlaluan dengan terlibat dalam penunjukkan Sultan pada bulan Juni 1823.

Penunjukan itu untuk menggantikan Sultan Hamengku Buwono III yang meninggal mendadak.

 

Smissaert duduk di atas tahta seraya menerima sembah dan bakti para bupati mancanagara dalam lima upacara Garebeg selama 31 bulan masa jabatannya sebagai Residen.

Jelas ini menghina penduduk Jawa.

 

Pangeran Diponegoro memang tetap menerima posisi sebagai Wali Sultan bersama Mangkubumi, Ratu Ageng dan Ratu Kencono (Ibunda Sultan balita).

Namun posisi Pangeran semakin tidak dianggap.

Smissaert mengabaikan pendapat Pangeran Diponegoro dalam persoalan ganti rugi sewa tanah yang dapat membawa Kesultanan pada kebangkrutan.

 

Danurejo IV, sang patih di Keraton juga bertindak sewenang-wenang dan korup.

Jual-beli jabatan, pemecatan pejabat-pejabat resmi, penggelapan uang keraton terjadi dibawah ketiaknya.

 

Sang Patih Danurejo bahkan bertindak keterlaluan dengan membawa para putri keraton ke tempat peristirahatan di pedesaan untuk berpesta pora dan ‘mencemari’ mereka.

Hubungan gelap dan skandal seks yang liar antara para pejabat Eropa, bangsawan dan putri-putri Keraton hanya meneruskan kisah kebejatan moral.

Ini yang membuat Keraton seperti rumah bordil.

 

Asisten Residen, P.F. H. Chevallier juga kerap menghina Pangeran Diponegoro.

Chevallier yang perilakunya mirip maniak seks bahkan menjadikan saudari perempuan Pangeran sebagai korbannya.

 

Teguran Pangeran dijawab Chevallier dengan mengatakan ia akan melakukan apa yang ia suka dengan perempuan pribumi.

Chevallier lalu memukul kepala Pangeran Diponegoro.

Ia akhirnya memutus hubungan dengan Keraton sejak Februari 1824, sebagai bentuk perlawanan Pangeran Diponegoro.

 

Dalam pengakuannya pada Kiyai Mojo setahun kemudian, Pangeran Diponegoro berkata,

“Paman, saya meninggalkan Yogyakarta karena saya merasa tidak dianggap lagi oleh orang-orang Eropa dan oleh Danurejo [IV].” 

 

Kehidupannya dihabiskan di Tegalrejo. Satu hal yang rutin dilakukannya adalah menyepi ke goa Secang miliknya di Selarong.

Dalam sepi di Goa Secang, ia mendapati peristiwa ganjil. Ia melihat penampakan-penampakan gaib yang akan mengubah jalan hidupnya.

 

Penampakan pertama terjadi di Bulan Ramadhan tahun 1824.

 

Sejarah Pangeran Diponegoro Menjadi Abdul Hamid

Sesosok haji muncul dihadapannya. Mengaku sebagai utusan Ratu Adil.

Utusan ini kemudian membawa Pangeran Diponegoro bertemu dengan Ratu Adil di puncak gunung.

 

Sosok Ratu Adil itu bersurban hijau, berjubah dan bercelana putih, serta memakai selendang merah.

Sebagaimana yang diceritakan dalam Babad-nya, sosok ini kemudian menyapa Pangeran Diponegoro;

Berdiri di puncak gunung, menghadap batu pertapaan saja, tidak ada perintangnya, rerumputan terlihat bersih bagai disapu, Kanjeng Pangeran di bawah melihat ke atas, ke arah

tenggara menghadapnya. Ratu Adil lalu berkata, “Hei, kau Abdulhamid!”

Karena itu kau kupanggil, prajuritku semua kautolak.

Di Jawa nanti rebutlah, seadaianya ada orang bertanya kepadamu, suruhlah mencari pada surat dalam Qur’an.”

Kanjeng Abdul Hamid berkata, “Mohon maaf, hamba sudah tidak kuat berperang.”(Pangeran Dipanegara: 2016)

 

Kita tentu tidak bisa memastikan apakah Pangeran sedang bermimpi atau memang ada sebuah penampakan gaib.

Satu hal yang pasti penyepiannya di Goa Secang juga diisi dengan ibadah dan membaca Qur’an.

 

Satu peristiwa di Bulan Ramadhan di tahun 1825, selepas sholat Ashar, Pangeran sedang duduk di kebun sekitar Goa Secang. Ia mendengar suara gaib ini.

Kau Abdul Hamid.

Namamu nanti diberi oleh Allah Rabil alamin menjadi Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra Sayidin Panatagama di Tanah Jawa, Kalifah Rasulullah engkau semata.”

Setelah itu hilang suaranya.

 

Apakah hal ini berarti menjadi alasan Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan?

Apakah karena mendapat “mandat” dari satu hal yang gaib? Sepertinya tidak demikian.

Alih-alih demikian, nampaknya kita dapat menerima bahwa “mandat” ini hanya mendorong Pangeran untuk lebih yakin melakukan perlawanan.

 

Sebelum penampakan terakhir di Bulan Mei 1825, Pangeran Diponegoro telah membuka ruang diskusi dengan para Pangeran dan pejabat resmi Keraton Yogya .

Sebagian dari mereka juga prihatin dengan situasi ekonomi dan politik yang semakin memburuk.

 

Pertemuan pertama terjadi di Tegalrejo pada 29 November 1824 dan tidak semua yang hadir mendukung pemberontakan.

Pangeran pun telah membicarakan tekadnya berperang pada Rahmanudin, bekas Penghulu Keraton yang dipecat dan tinggal di Tegalrejo.

 

Rahmunin menyatakan dirinya sudah tak sanggup untuk berperang. Menanggapi hal itu, Pangeran Diponegoro kemudian menjawab,

“Saya senang berperang, matinnya syahid!” …

 

Ini lah awal mula terjadinya perang Pangeran Diponegoro…

 

Baca biografi Pangeran Diponegoro selengkapnya di : http://jejakislam.net/

 

Setelah membaca biografi Pangeran Diponegoro ini, baca juga ya sejarah dahsyatnya tsunami pada zaman dahulu di link ini

Tinggalkan Balasan

  • Post author: