Perlengkapan Bayi

Cerpen Singkat Persahabatan Cinta & Lucu

Cerpen Singkat Cinta | Sakti dan Rini

 

 

 Perasaan Rini bercampur aduk antara tidak peduli dan terbawa perasaan alias baper, tapi sifat Sakti yang dingin membawa perasaan Rini menuju ketidakpedulian.

 

Bagaimana tidak terkejut? Seorang laki-laki bernama Sakti, tiba-tiba mengungkapkan perasaannya pada Rini pada hari wisuda SMA.

cerpen cinta

 

Aku gak mau pacaran…!” ucap Rini agak ketus.

“Siapa juga yang mau ngajak pacaran?” Sakti mengernyitkan dahinya. “Saya mengungkapkan ini, karena kenyataannya seperti itu,” lanjutnya.

 

“Banyak juga yang suka kamu ya,” goda Sakti. Rini terkejut ketika tahu Sakti sedang mengintip dirinya yang tengah asyik chatting.

Terlihat pada ponselnya, banyak sekali orang yang mengungkapkan perasaan suka kepadanya.

 

“Kamu gak sopan banget sih!” Rini jengkel sehingga ia bangkit dari duduknya.

“Maafkan saya, ngapain sendirian di taman sore-sore gini? Nungguin pacar ya?”

 

“Gampang banget minta maaf, bukan urusan kamu!”

“Seharusnya kamu pulang, dia gak akan datang. Daripada harus kedinginan dengan kebayamu, pakailah jaket cadanganku.”

 

Sakti pergi ke warung yang jaraknya tak jauh dari tempat duduk Rini. Sakti hanya duduk dan minum sambil memperhatikan Rini.

Aku tahu sakitnya menunggu, makanya aku harus menjaganya, kata Sakti dalam hati.

Ia berpikir laki-laki yang tertulis di layar ponsel Rini tidak akan datang.

 

Singkatnya, hari sudah semakin gelap, Rini masih saja duduk tanpa memperdulikan jaket yang Sakti beri.

Apa ia tidak kedinginan? Batin Sakti berbisik.

 

“Ayo pulang,” ajak Sakti.

“Pergilah!”

Sakti kehabisan kesabaran, ia menarik tangan Rini dan jaket yang tergeletak di kursi taman.

“Pakai…” Sakti memakaikan jaket untuk Rini. Sakti menggiring Rini menuju parkiran mobil, ia membuka pintu mobilnya.

“Masuk…!” Sakti mendorong masuk badan Rini ke dalam mobil.

 

Sakti pun masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan GPS di dashboard  mobilnya.

“Kamu mau menculikku?” tanya Rini.

“Kau polos sekali, saya akan membawamu pulang.”

“Memang kau tahu rumahku?”

“Bahkan aku tahu silsilah keluargamu.”

 

Di perjalanan, Sakti menjelaskan pada Rini bahwa laki-laki yang ia kabari untuk menjemputnya hanyalah laki-laki pengecut.

Sakti menyuruh Rini untuk meninggalkannya, demi kebaikannya sendiri.

 

Sampai di depan rumah Rini, Sakti keluar dan membukakan pintu mobil untuk Rini.

Kemudian, Sakti mengantar Rini ke depan pintu rumah. Sekali mengetuk pintu, tak lama kemudian datanglah ibunya Rini, Bu Rani namanya.

 

“Rini? Dari mana saja kamu?” tanya Bu Rini.

Sakti menjelaskan pertemuan dia dengan Rini. Bu Rani pun berterima kasih pada Sakti dan menyuruh Rini masuk ke dalam untuk ganti baju.

 

“Bu, sepertinya dalam beberapa waktu, saya tidak bisa menjaga Rini.”

“Lho, kenapa?”

“Saya akan kuliah di Korea.”

“Apa? Dia akan pergi ke luar negeri?” kata Rini dalam batin.

Rini menguping pembicaraan mereka, di balik tembok yang memisahkan ruang keluarga dengan ruang tamu.

 

Di rumah, Sakti beristirahat. Ia mengambil makanan dari lemari es dan membawanya ke kamar.

Wajar saja, untuk anak korban broken home, ia menikmati kesendirian di rumah yang diberi ayahnya.

 

Dert! Ponsel Sakti bergetar di meja belajarnya. Setelah ia lihat, isinya adalah pesan singkat dari Rini.

“Malam, ini Rini. Sebelumnya aku ingin minta maaf karena telah berlaku kasar padamu, aku ingin berterima kasih telah membawaku pulang dan telah mengajariku banyak hal,” tulisnya.

Apa Bu Rani telah menjelaskan segalanya pada Rini? Aku harap semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

 

“Sama-sama,” balas Sakti singkat.

Setelah kejadian itu, Rini menaruh hati pada Sakti, namun sayang, Sakti akan pergi ke luar negeri untuk kuliah seni di Korea Selatan.

 

Beberapa bulan kemudian, Rini hanya diam di rumah sambil menunggu hari pertama masuk kuliah.

“Rini, bangun, Nak!” teriak Bu Rani.

“Iya.”

 

Rini berjalan gontai menuju ruang makan, matanya otomatis terbelalak melihat Ibunya sudah berpakaian rapi.

“Ibu mau ke mana? Rapi banget!”

“Kamu lupa? Hari ini Sakti berangkat ke Korea.”

 

“Hah! Kok Ibu gak kasih tahu aku, sih!” Rini berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, membersihkan diri, kemudian berlari lagi ke kamarnya untuk mengganti baju.

Ia mengeluarkan baju-baju terbaiknya, ia mencoba satu persatu baju itu, ketika ada yang tidak cocok ia lempar baju itu ke kasurnya dan memilih baju lain.

 

“Rini! Ayo sarapan dulu!” Bu Rani memanggil Rini dari luar pintu kamar sambil mengetuk pintu.

Sesaat kemudian Rini keluar dari kamar dengan gamis berwarna biru langit dan kerudung putih secerah senyum manisnya pagi ini.

 

“Kamu cantik banget, kayak mau nikahan aja,” goda Bu Rani.

“Apaan sih Ibu,” Rini tersipu malu. Wajahnya memerah seperti bunga mawar yang merekah.

 

Setelah sarapan, Bu Rani dan Rini pergi ke luar untuk mencari taksi. Setelah mendapatkan taksi, mereka berdua berangkat ke bandara.

 

Di bandara, Sakti hanya duduk menunggu jam penerbangannya tiba. Ini pertama kali ia pergi ke Korea, apalagi untuk belajar.

Bakatnya di  bidang seni terutama musik, diberi angin segar dengan terpilihnya ia sebagai penerima beasiswa kuliah di Korea.

 

Motivasi belajarnya berada di dalam hal baca-tulis. Hobi membaca dan menulisnya membawa pikirannya menuju dunia yang lebih luas.

Untuk musik, mungkin Super Junior menjadi salah satu penunjang dirinya, terutama musik Korea.

 

“Sakti!” Rini memanggil Sakti dari belakang tempat duduk Sakti.

Sakti berbalik dan langsung berdiri menghampiri Bu Rani dan Rini yang ada di belakang kursi tempat duduknya tadi.

 

Pupil mata Sakti membesar melihat Rini yang begitu menawan, sifat dinginnya seolah terpanggang perasaan yang kian menggebu dalam dadanya.

Dan itu membuatnya sedikit salah tingkah.

 

“Kamu pergi sendirian?” tanya Rini.

“Iya, kurasa begitu.”

“Apa tidak akan apa-apa kau sendirian di sana?”

“Insya Allah, tidak akan apa-apa.”

 

Rini hanya tertunduk mendengar jawaban Sakti. Ia khawatir pada laki-laki yang selama ini ia anggap tidak punya perasaan.

Setelah lulus SMA, Rini berencana masuk kuliah jurusan kedokteran walau memang masa sekolahnya kurang begitu bersinar daripada Sakti, untuk sifat dan kepribadian.

Rini membutuhkan banyak bimbingan.

 

“Kepada para calon penumpang penerbangan Jakarta-Seoul, diharap untuk segera menuju pintu pemberangkatan,” terdengar suara pengumuman dari speaker bandara.

 

“Ayo kita antar Sakti,” kata Ibu Rani.

Ibu Rani dan Rini mengantar Sakti ke pintu pemberangkatan. Sebelum sampai ke pintu pemberangkatan, Sakti mengingat masa lalunya tentang komitmennya pada Ibu Rani.

“Saya menyukai anak Ibu,” ungkap Sakti.

“Tapi kan kamu masih sekolah, belum saatnya untuk kamu melakukan hal seperti ini.”

 

“Saya tahu, itu sebabnya saya ingin berkomitmen di depan Ibu bahwa saya ingin berusaha menjadi sukses, sampai saatnya nanti saya mengkhitbah anak Ibu, Rini,”

Ibu Rani terdiam, bisu seribu bahasa.

 

Wajar saja, anak berumur 17 tahun datang ke rumahnya untuk mengungkapkan perasaannya pada satu-satunya anak perempuan yang ia besarkan.

“Hmmm… Baiklah, tapi begini, bagaimana pun ke depannya, semuanya sudah ditentukan oleh Allah, dan satu lagi, kamu harus jaga Rini, jangan sampai dia pergi ke arah yang tidak baik.”

 

Kembali ke bandara. Sakti, Rini dan Ibu Rani sudah berdiri di depan pintu pemberangkatan.

Hati cemas, ia merasa berat ditinggalkan Sakti untuk empat tahun di luar negeri.

“Saya pergi ya,” pamit Sakti.

 

“Sakti, kamu janji akan kembali lagi?” tanya Rini.

“Rini, insya Allah saya akan kembali. Saat saya kembali, saya akan melamar kamu, saya akan memenuhi tekad saya.”

“Aku akan menunggu kamu.”

 

Maf Sala

 

Kamu juga bisa mendapat inspirasi dari cerpen singkat tentang kehidupan dari Sebuah Ucapan Hati berikut ini.

 

Daftar Isi Kumpulan Cerpen Singkat

Tinggalkan Balasan